Artikel

Ihtisaban, Mengharap Pahala Puasa Ramadhan
Mengharap pahala dan ampunan. Ilustrasi.

Mengharap pahala dan ampunan. Ilustrasi.

SEAKAN belum terpuaskan, pencarian dari Ramadhan ke Ramadhan terus dilakukan. Walau sudah sering mendengar ini dan itu, dari beberapa sumber dan guru, tetap terasa ada yang kurang. Beruntung kali ini Allah memberi kesempatan dan ilham yang baik. Tak disengaja, pencerahan datang menjelang Ramadhan tiba. Hati pun berbunga, berjejal syukur tiada tara.

Semua orang mungkin sudah sering mendengar dalil di bawah ini. Dalil shahih yang tiada bandingnya. Penuh makna dan andalan mengiringi ramadhan tiba; masalah puasa, sholat malam atau tarawih dan lailatul qodar.

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Siapa berpuasa ramadhan imanan wahtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu. Dan siapa shalat pada Lailatul Qadar imanan wahtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda: “Barangsiapa yang menunaikan shalat malam di bulan ramadhan imanan wahtisaban (dengan keimanan dan mengharap pahala), diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Puasa ramadhan, qiyamu ramadhan dan qiyamu lailatul qodar bisa menghapus dosa-dosa terdahulu, dengan syarat imanan wahtisaban ( wa ihtisaban). Menurut al-Hafidz Ibnul Hajar rahimahullah, “Maksud iman di situ adalah keyakinan dengan kebenaran kewajiban puasa padanya. Sedangkan ihtisaban, meminta pahala dari Allah Ta’ala.”

Ibnu Baththol rahimahullah mengatakan, “Yang dimaksud karena iman adalah membenarkan wajibnya puasa dan ganjaran dari Allah ketika seseorang berpuasa dan melaksanakan qiyam ramadhan. Sedangkan yang dimaksud “ihtisaban” adalah menginginkan pahala Allah dengan puasa tersebut dan senantiasa mengharap wajah-Nya.” (Syarh Al Bukhari libni Baththol, 7: 22).

Sementara menurut Imam al-Khathabi rahimahullah: “Ihtisab maknanya ‘azimah, yaitu dia berpuasa dengan berharap pahalanya dengan memperhatikan kebaikan bagi dirinya tanpa memberatkan pada puasanya dan tidak pula memperpanjang hari-harinya.” (Fathul Baari: 6/138 dari Maktabah Syamilah)

Menurut Imam Nawawi rahimahullah, makna iman: membenarkan bahwa dia itu benar dan berharap keutamaannya. Sedangkan makna Ihtisaban, dia berharap kepada Allah Ta’ala semata, tidak berharap penilaian orang dan harapan-harapan lain yang menyalahi ikhlas. (Syarh Nawawi ‘ala Muslim, no. 1266)

Sebenarnya sudah jelas pengertian imanan wahtisaban. Namun saya tertantang untuk mencari tahu lebih dalam arti ihtisaban. Sebab kalau imanan sudah jelas makna dan keterangannya. Ada sesuatu dibalik ihtisaban ini – yang secara umum diartikan mencari pahala – sebagaimana tersebut di atas. Nah, entah mengapa terdorong untuk mewazan kata ihtisaban ini. Jika diwazan (ditimbang) kata ihtisaban berasal dari akar kata hasiba (menghitung), sewazan dengan fatiha (Al-fatihah), yang kemudian membentuk iftitahan.

Dari sini kemudian banyak orang mengenal iftitah yang sering dimaknai pembukaan, seperti doa iftitah, yang artinya doa pembukaan untuk sholat. Dengan demikian ihtisaban – ihtisab dapat diartikan sebagai perhitungan atau kalkulasi, yang kemudian dimudahkan bahasanya menjadi mencari pahala. Jadi ihtisaban maksudnya penuh perhitungan atau kalkulasi dalam mencari pahala. Hal ini diperkuat dengan dalil, bahwa berbuat kebaikan di bulan ramadhan dilipatkan, demikian juga dengan berbuat jelek, juga dilipatkan. Sama – sama dilipatkan tentunya dengan perhitungan akal sehat, orang akan memilih berbuat baik daripada berbuat jelek di bulan ramadhan ini.

“Maka berhati-hatilah kalian pada bulan Ramadhan, sesungguhnya kebaikan & kejelekan dilipatgandakan (pahala/dosanya)” (HR.Tabrani)

Dan Rasulullah SAW juga memberikan contoh seperti yang diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim, dari Ibnu Abbas raldhiallahu ‘anhuma, ia berkata: “Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam adalah orang yang paling dermawan, dan beliau lebih dermawan pada bulan Ramadhan, saat beliau ditemui Jibril untuk membacakan kepadanya Al-Qur’an. Jibril menemui beliau setiap malam pada bulan Ramadhan, lalu membacakan kepadanya Al-Qur’an. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika ditemui Jibril lebih dermawan dalam kebaikan daripada angin yang berhembus.

Berawal dari sini, setahun lalu saya sempat berkirim celoteh tentang pepsodent – yang bercerita tentang behaviour change, dan kali ini saya lebih menekankan arti penting bulan ramadhan sebagai bulan pelatihan. Maksudnya mari kita berlatih dengan sungguh-sungguh di bulan ini, dengan penuh perhitungan, mau punya amalan seperti apa ke depan. Mau rutin bangun malam, rutin baca quran, rutin puasa sunah, rutin sedekah, dan rutinitas lainnya. Di sinilah semua bermula. Jangan ngebut di awal-awal bulan, tapi kendor di akhirnya. Jangan semangat di permulaan, tapi lemes di akhirnya. Cobalah istiqomah, atur ritme dan disiplin melatih diri sebulan penuh ini. Insya Allah hasilnya bisa kita rasakan setahun ke depan sebelum datang ramadhan yang akan datang. Jika tidak, ramadhan hanya menjadi pesta dan pentas sesaat saja, tanpa makna dan berbekas di bulan – bulan selanjutnya. Sebab kita memandang dari sudut yang tidak tepat.

Selamat melatih diri, selamat berpuasa, mohon maaf atas segala kesalahan dan kekhilafan saya dalam bergaul selama ini. Semoga kita bisa sukses melatih diri dengan 5 sukses ramadhan; sukses puasanya, sukses tarawihnya, sukses tadarusnya, sukses zakat dan sedekahnya dan sukses lailatul qodarnya. Amin.

Oleh : Faizunal Abdillah

Tinggalkan Balasan

Protected by WP Anti Spam