Artikel

Mengapa Perlu Menikah?
Siti Nurannisaa PB, MPd

Siti Nurannisaa PB, MPd

Sesi Pembekalan Pranikah bersama Siti Nurannisaa PB, MPd

BALIKPAPAN – Mengapa perlu menikah? Pertanyaan dasar ini mengemuka saat Siti Nurannisaa membuka sesi siang seminar dengan tema Positive Parenting dan Pembekalan Pranikah, yang diadakan oleh keputrian LDII Balikpapan Sabtu lalu (23/11/2013), di Masjid Al Mubarok Kapling Markoni Atas Balikpapan.

Seminar yang diadakan selama dua hari ini cukup padat, baik dari sisi materi maupun jumlah pesertanya. Tak heran, dengan pertanyaan dasar ini, peserta wanita dan remaja keputrian sontak bereaksi. Ada yang memberi jawaban ingin mempunyai keturunan, ingin bahagia, dan jawaban lainnya yang tampaknya belum memuaskan penanya.

“Siapa sih yang gak mau 24 jam ada yang mau mendengar keluh kesah Kita?” tanya Mba Nisa, sapaan akrab Siti Nurannisaa kepada peserta.

“Ada yang menemani Kita disaat suka dan duka? Enak kan kalau sudah menikah, dan menikah itu kalau kalian tahu pahalanya wouw banget loh!” pancing Mba Nisa menggoda peserta.

“Tapi banyak juga ya yang menunda pernikahan, kenapa?” tanya wanita yang juga berprofesi sebagai dosen di jurusan Desain Komunikasi Visual Universitas Tarumanegara Jakarta ini.

Menurut Mba Nisa, ada banyak alasan mengapa seseorang menunda untuk menikah, seperti adanya kekhawatiran yang berlebihan, bahwa setelah menikah seseorang akan terbelenggu, merasa terikat, dan tidak dapat mengekspresikan kebebasannya.

Selain itu, bergesernya usia pernikahan, keraguan, kesulitan dalam memilih calon pasangan, kebingungan, merasa belum mampu, serta memiliki pengalaman kurang menyenangkan dalam hubungan keluarga, bahkan pernah melihat perceraian di usia perkawinan muda, yang semua itu timbul akibat tidak mengenal diri sendiri.

Pernikahan merupakan bersatunya pria dan wanita. Melalui akad nikah, hubungan antara dua kekasih saling menciptakan ketentraman, cinta, dan kasih sayang. Hanya dengan dua kalimat yang sederhana, ijab dan qabul terjadilah perubahan besar. Jika sebelum menikah dilakukan adalah haram, dengan menikah kini menjadi halal. Jika sebelum menikah adalah maksiat, kini setelah menikah menjadi ibadah. “Maka nafsu pun berubah menjadi cinta dan kasih sayang,” terang Mba Nisa.

Kunci dari semua itu adalah dengan mengenal diri sendiri, melaksanakan niat dengan benar, serta mengerti tujuan menikah. “Jadi kalau Kita tidak punya tujuan, maka Kita tidak akan mendapatkan hasilnya,” ujar Mba Nisa ini.

Tujuan menikah itu sendiri akhirnya dijelaskan dengan gamblang oleh Mba Nisa, seperti yang tercantum baik di dalam Al Quran maupun Al Hadits. Beberapa diantaranya adalah untuk menjaga diri dari perbuatan haram, melakukan aktivitas ibadah yang mempermudah dalam melipatgandakan pahala, mengamalkan nilai-nilai kehidupan untuk diri sendiri, keluarga, dan orang lain sehingga dapat menjadi contoh kebaikan bagi yang lain.

Selain itu, tujuan menikah lainnya adalah untuk mendapatkan keturunan, serta terpenuhinya rasa aman, tentram, kasih dan sayang, seperti yang tercantum dalam al Quran Surat Ar Rum ayat 21.

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.”

Semoga manfaat barokah.

Penulis: Dhica Wellyca
Editor: S Anugerah

Tinggalkan Balasan

Protected by WP Anti Spam