Artikel

Ekspedisi Bhakesra: Sepenggal Cerita di Atas Geladak KRI Banda Aceh 593
Simulasi kebakaran oleh pasukan TNI AL. Foto: Fredy/LINES

Simulasi kebakaran oleh pasukan TNI AL. Foto: Fredy/LINES

KRI Banda Aceh 593 (3/9). Tidak banyak yang tahu bagaimana aktivitas peserta Ekspedisi Bhakesra di atas Kapal KRI Banda Aceh. Sebagai bagian dari peserta Ekspedisi Bhakesra, tim LDII Network News (LINES) mencoba menceritakan berbagai kegiatan di atas geladak KRI Banda Aceh — kapal perang buatan PT PAL.

Saat adzan Maghrib berkumandang di atas kapal, meningkahi riuhnya mesin dan blower kapal. Seluruh peserta beragama Islam bergegas naik ke dek helikopter untuk sholat berjamaah. Biasanya, seusai solat itu, digelar tausiyah dari perwakilan kelompok yang telah ditentukan. Salah satunya wakil dari LDII, H. Anshorudin. Anshorudin menekankan kesyukuran di awal tausiahnya, karena syukur membuat hidup di dunia itu serasa nikmat meskipun dalam keadaan kurang.

Peserta bergegas ke Geladak E menuju tempat pembagian lifecraft. Foto: Fredy/LINES

Peserta bergegas ke Geladak E menuju tempat pembagian lifecraft. Foto: Fredy/LINES

“Barangsiapa yang keluarganya sehat dan waras. Kampung halamannya aman, walaupun persediaan makannya cukup untuk satu hari. Maka seakan-akan terasa seperti untuk selamanya,” ujar Anshor mengutip Sabda Rasul. Anshor juga mengingatkan agar selalu berpedoman pada Alquran dan Alhadist. Dua pedoman tersebut wajib dikaji dan diamalkan oleh umat Islam.

Selepas sholat Maghrib diadakan acara kearaban. Awalnya peserta terlihat canggung untuk berkenalan satu sama lain. Namun ketika ada sesi perkenalan, suasana mencair dan keakraban mulai terjalin. Peserta pun saling berkenalan satu sama lain. Tak ketinggalan juga menceritakan latar belakang masing-masing peserta untuk berkontribusi dalam ekspedisi kali ini.

Keakraban LDII dengan peserta Ekspedisi Bhakesra 2015. Foto: Fredy/LINES

Keakraban LDII dengan peserta Ekspedisi Bhakesra 2015. Foto: Fredy/LINES

Ada relawan seperti Rumah Zakat dan Badan Amil Zakat Nasional (Baznas), bahkan ada asosiasi pedagang, peneliti, bahkan musikus. Peserta bahkan menggelar berbagai acara yang membuat suasana tidak membosankan, seperti penyadaran go green, pengelolaan sampah, dokter cilik, dan leadership training oleh Forum Alumni Tujuh Tiga (Fortuga) ITB. Ada juga program penukaran uang lama oleh Bank Indonesia dan juga Satuan Komunitas Sekawan Persada Nusantara (SAKO SPN), yang menggelar outbond dan flying fox, dan LDII yang mengajarkan Alquran dan Alhadits.

Hal ini sejalan dengan pernyataan Ketua DPP LDII H Hidayat Nahwi Rasul saat menerima tim Bhakesra LDII di Makassar, bahwa kita semua wajib untuk menghidupkan sila ke lima keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. “Bhakesra ini merupakan acara berskala nasional. Maka LDII hadir dalam upaya berkontribusi sesuai dengan sila ke lima adalah sebuah kewajiban. Ini juga merupakan dukungan LDII dalam menegakkan NKRI,” ungkap Hidayat.

Selain itu, beberapa aktivitas wajib di dalam KRI Banda Aceh adalah seluruh peserta harus hadir dalam apel pukul 08.00 WIB. Hal ini tak lain dalam upaya memastikan peserta masih ada di kapal. “Apel ini bukan maksud untuk membatasi kebebasan peserta ekspedisi, namun ini dalam upaya menjaga kita semua tetap aman di kapal,” kata Letkol Laut (P) Edi Haryanto Komandan KRI Banda Aceh 593.

Tausiah dari DPP LDII. Foto: Fredy/LINES

Tausiah dari DPP LDII. Foto: Fredy/LINES

Lepas apel, diadakan pula simulasi hal-hal yang tidak diinginkan. Seperti kondisi kebakaran, kapal mengalami kebocoran dan kapal tenggelam. Tak ubahnya seperti kejadian nyata, pada simulasi, peserta wajib memakai life jacket dan berlatih menuju tempat yang telah ditentukan, jika kejadian yang diinginkan benar-benar terjadi.

Ketika sirine tanda bahaya terjadi, peserta kompak bergegas ke kamar mengambil life jacket dan langsung menuju dek helikopter. Pasukan KRI Banda Aceh pun dengan sigap mensimulasikan apa yang dilakukan ketika kebakaran terjadi.

Usai simulasi kebakaran, dilanjutkan simulasi kebocoran dan tenggelam. Pada saat ini peserta diminta untuk naik ke Geladak E untuk bersiap pada posisi lifecraft. Lifecraft berbentuk kapsul berfungsi sebagai tempat untuk mengapung di atas kapal. Ketika dijatukan ke laut, lifecraft akan mengapung dan memekar. Lifecraft juga dilengkapi persediaan bahan pokok untuk bertahan hidup sementara.

Lekol Laut (P) Edi Haryanto sedang memberikan pengarahan terkait KRI Banda Aceh 593

Lekol Laut (P) Edi Haryanto sedang memberikan pengarahan terkait KRI Banda Aceh 593. Foto: Fredy/LINES

Untuk menghidupkan suasana, biasanya diadakan lomba catur, bulu tangkis, baca Alquran, senam, baca puisi, dan stand up comedy. Hari demi hari, hingga habis 28 hari lamanya ekspedisi demikianlah gambaran aktivitas di dalam KRI Banda Aceh 593.

Ekspedisi Bhakesra akan berlangsung dari 31 Agustus sampai 28 September mengunjungi empat pulau, di antaranya Pulau Muna, Pulai Wowonii, Pulau Banggai dan Pulau Togean. Adapun puncak acara serempak dengan Sail Tomini 2015 di Pulau Parigi.

LDII dalam Bhakesra 2015 menyalurkan paket beasiswa pondok pesantren plus sekolah hingga lulus, untuk putera daerah. Bantuan yang diberikan di antaranya alat ibadah, alat sholat, alat sekolah, baju, buku gerakan penghijauan, buku FGD pra Rapimnas dan Majalah Nuansa dengan nilai nominal sebesar Rp 855 juta . LDII juga memberikan paket pelatihan jurnalistik dan dakwah Islam dinahkodai oleh enam relawan. Ust. H Imansyah, Ust jarir, Ust H Anshorudin, Rohmat, Frediansyah Firdaus, dan Drs Suyitno Widodo selaku ketua tim relawan LDII. (Fredy/Khoir – Lines)

Tinggalkan Balasan

Protected by WP Anti Spam