Artikel

Presiden Ingatkan Etika Berkomunikasi

JAKARTA — Media sosial memberikan pengaruh besar bagi perkembangan masyarakat Indonesia. Namun, Presiden menilai bahasa yang digunakan di media sosial justru ada yang tidak sesuai dengan etika berkomunikasi dan nilai-nilai budi pekerti bangsa Indonesia lagi.

“Coba kita lihat sekarang buka (media sosial) saling menghujat, saling mengejek, saling memaki, dan saling menjelekkan. Apakah itu kepribadian bangsa kita? Apakah itu budi pekerti yang ditanamkan kepada kita? Saya kira tidak. Ini ada infiltrasi lewat media sosial yang kita tidak sadari dan tidak kita saring,” ujar Presiden Joko Widodo dalam sambutannya pada Musyawarah Nasional VIII Lembaga Dakwah Islam Indonesia (LDII), di Balai Kartini, Jakarta, Rabu (9/11).

Presiden didampingi, antara lain, Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin, Menteri Komunikasi dan Informatika Rudiantara, dan Menteri Sekretaris Negara Pratikno.

Presiden juga sudah menginstruksikan Menkominfo menyusun rambu-rambu dalam berkomunikasi lewat internet pada tahun 2015. Presiden mengajak anggota LDII bersama pemerintah memberikan contoh baik berinternet guna menyaring pengaruh negatif media sosial. “Saya kira kalau kita bersama-sama, (termasuk) seluruh jajaran LDII menyaring pengaruh negatif, saya yakin yang jelek akan berubah menjadi baik,” kata Presiden.

Presiden mencontohkan rakyat Jepang dan Korea Selatan tetap memegang tradisi saling menghormati, terutama terhadap orangtua dan orang yang lebih tua, meski telah menjadi negara maju berteknologi tinggi.

Suatu nilai yang sudah lama dijalankan oleh rakyat Indonesia. Presiden pun mengingatkan pentingnya menanamkan karakter bangsa kepada generasi muda.

“Meskipun mereka pintar, pandai, menguasai teknologi, tetapi kalau tidak didampingi keimanan yang baik, kejujuran yang baik, integritas yang baik, budi pekerti yang baik, tidak ada artinya,” kata Presiden.

Hormati guru

Presiden mendukung upaya LDII menggalakkan Gerakan Menghormati Guru sebagai bagian dari upaya mengembalikan karakter positif bangsa. Presiden meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan menjadikannya sebagai gerakan nasional.

Ketua Umum LDII KH Abdullah Syam menyampaikan, LDII meluncurkan tiga program, yakni Gerakan Menghomati Guru, Gerakan Internet Sehat, dan Kode Etik Media Sosial, serta meluncurkan situs www.pikub.co.id sebagai gerakan ekonomi syariah melalui digital.

“LDII berharap semua komponen bangsa bersinergi mendukung menyukseskan Gerakan Menghormati Guru,” ujar Abdullah Syam. (SON)

Sumber: harian kompas

Tinggalkan Balasan

Protected by WP Anti Spam