Artikel

Yuk, Kelola Keuangan Keluarga secara Islami
Ilustrasi. Dompet dan uang. Foto: mbaschoolauthority.com

Ilustrasi. Dompet dan uang. Foto: mbaschoolauthority.com

LEBARAN tinggal beberapa hari lagi, tanggal tua dan gaji pun menanti, sementara saat-saat seperti ini intensitas kebutuhan mulai meninggi. Ada yang menunggu gaji dan tunjangan hari raya (THR) dari hasil bekerjanya, dan ada pula yang masih menunggu dagangannya laku, semua masih dalam proses dan butuh kesabaran yang tinggi pula.

Namun, ketika rizki yang dinanti sudah didapat, pos apa yang harus dipersiapkan lebih dulu? Beberapa orang mungkin menjawab belanja ini dan itu untuk keperluan lebaran, benarkah? ”Yang benar adalah sisihkan dulu untuk zakat, infak, dan sedekah (ZIS), bayar utang, menabung, baru belanja rutin,” ujar Ahmad Gozali, seorang konsultan perencana keuangan keluarga, seperti dikutip dari republika.co.id, Rabu (17/7/2013).

Belanja adalah pos terakhir setelah urusan penting sebelumnya ditunaikan, karena belanja adalah pos yang paling fleksibel, besar kecilnya tergantung kebiasaan dan kemauan tiap orang. ZIS berurusan dengan dunia dan akhirat. Utang, berurusan dengan orang atau perusahaan. Apabila utang telat dibayar, maka bisa dikenakan denda, atau berurusan panjang dengan seseorang. Sedangkan tabungan, berurusan dengan hari tua dan pengeluaran tak terduga.

Ahmad Gozali mengatakan pengelolaan keuangan keluarga tak pernah diajarkan di bangku sekolah. “Kita belajar keuangan negara, perusahaan, dan koperasi mulai bangku SMP hingga kuliah. Tapi tak satupun pelajaran manajemen kuangan keluarga.”

Secara berkelakar ia mengutarakan barangkali karena itu, banyak korupsi di Indonesiaa. “Karena belajarnya keuangan negara, maka uang negara bercampur dengan uang rumah tangga. Begitu juga yang belajar keuangan perusahaan juga bercampur dengan keuangan pribadi.”(sa)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.