Artikel

Silaturahim Syawal, Bersatu Meringankan Beban Bangsa

JAKARTA – LDII menggelar Silaturahim Syawal yang bertepatan dengan Hari Kemerdekaan ke-70 Republik Indonesia. Dua momen ini diharapkan mampu menyatukan bangsa Indonesia yang tengah menghadapi ancaman perlambatan ekonomi, kemerosotan moral, dan ancaman terhadap kebhinekaan bangsa Indonesia.

Silaturahim Syawal dengan tema Memperkokoh Nilai-Nilai Moral dalam Kehidupan Bermasyarakat, Berbangsa, dan Bernegara ini dilaksanakan di Gedung DPP LDII Patal Senayan Jakarta, Selasa (11/8/2015). Menurut Ketua Umum DPP LDII, Prof. DR. Abdullah Syam, M.Sc, tema ini merupakan pengingat bagi bangsa Indonesia, yang selama 70 tahun ini terus mengalami berbagai tantangan dan hambatan.

“Saat era revolusi, bangsa kita bisa bersatu padu melawan invansi penjajah. Justru pascareformasi, tekanan dari luar dan hiruk pikuk politik yang mengabaikan moralitas tidak sanggup diatasi bangsa Indonesia. Politik uang, korupsi, dan saling menjatuhkan serta perpecahan di kalangan elit politik akan sulit melahirkan negarawan atau kepala daerah yang baik. Sementara generasi penerus bangsa harus berhadapan dengan narkoba dan kemerosotan moral,” papar Abdullah Syam.

Abdullah Syam mengingatkan problematika bangsa ini bisa diatasi dengan syarat, bangsa Indonesia bisa bersatu untuk memperkokoh nilai-nilai moral. Dengan moral yang luhur, maka kepentingan pribadi, golongan, maupun asing bisa diabaikan, “Dengan demikian para elit politik, birokrasi, dan para pemuka masyarakat hanya memiliki satu tujuan agar bangsa Indonesia ini maju, makmur, dan berkeadilan untuk mengejar ketertinggalan dari negara lain, serta mewujudkan negeri yang Baldatun Thayyibah Wa Rabbun Ghafur,” ujar Abdullah Syam.

Pendapat Abdullah Syam itu tak berlebihan, pasalnya tepat pada terbit fajar 1 Syawal 1436 Hijriyah, yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan individu dan kolektif usai berjuang melawan hawa nafsu justru ekonomi dan politik bangsa Indonesia tengah diselimuti mendung. Perpecahan partai politik hingga Idul Fitri yang ditandai insiden di Tolikara, menjadikan bangsa Indonesia berada dalam ‘fajar fitrah’ yang positif dalam kegelapan bumi yang pesimis dan negative.

Menurut Ketua DPP LDII Ir Chriswanto Santoso, M.Sc seharusnya kefitrahan manusia yang didapat dari Idul Fitri harus menjadi motivasi yang positif, untuk memperbaiki kehidupan bangsa dan bernegara. “Kondisi kita sebaliknya, sesudah Idul Fitri justru ada tujuh daerah yang hanya memiliki calon tunggal, dengan berbagai alasan. Artinya parpol gagal menciptakan kader yang baik. Belum lagi ada 83 daerah yang terancam memiliki calon tungggal. Pilkada pun dibayangi calon boneka dan politik uang,” ujar Chriswanto.

Ia mengingatkan Idul Fitri kali ini adalah momentum bagi bangsa Indonesia untuk bangkit dari keterpurukan. Chriswanto berharap umat Islam di Indonesia menjadikan kefitrahan jadi semacam optimisme, untuk menghadapi masa depan bangsa yang mungkin saja menghadirkan pesimisme, untuk berbuat sesuatu yang luhur bagi bangsa dan negara, “Umat Islam harus meyakini setelah kesusahan atau kesulitan terdapat kemudahan. Banyaknya cobaan pasti mendatangkan pertolongan dari Allah, dengan syarat bangsa ini memperkokoh nilai moral tak berpecah belah, saling menyakiti, dan berbuat dosa hanya untuk kepentingan pribadi dan golongan,” ujar Chriswanto.

Menurutnya dengan bersatu, bangsa ini mampu meringankan beban bangsa, yang kemudian mengambil langkah perbaikan untuk mengejar ketertinggalan dari bangsa yang maju. “Islam meletakkan landasan moral yang hebat untuk bisa menjadi bangsa maju. Kemajuan bangsa yang didasarkan nilai-nilai Islam, dapat membebaskan bangsa itu dari dampak kemajuan. Sebagai contoh Barat maju namun dekadensi moral merajalela, namun dalam dunia Islam, kemajuan menciptakan masyarakat yang bersyukur, tawakal, serta tawadhu,” papar Chriswanto.

Chriswanto mengingatkan semangat Islam tidak boleh bertentangan dengan semangat kebangsaan atau nasionalisme. Islam dan nasionalisme tak bisa dipisahkan di Indonesia. Semangat Islam yang kuat tanpa diimbangi rasa kebangsaan yang kokoh akan membawa bangsa ini ke dalam perpecahan dan kehancuran.(LC/LINES)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.