Artikel

Audiensi Bersama Camat, Pengurus LDII Samboja Usul Pengelolaan Limbah Tahu dan Tempe
Kunjungan Camat Samboja Ahmad Nurkhalis bersama Pengurus PC LDII Samboja, Sabtu (1/2). Foto: LINES

Kunjungan Camat Samboja Ahmad Nurkhalis bersama Pengurus PC LDII Samboja, Sabtu (1/2). Foto: LINES

SAMBOJA – Pengurus Pimpinan Cabang LDII Kecamatan Samboja menggelar audiensi di sela kunjungan Camat Samboja Ahmad Nurkhalis SSos MSi yang baru dilantik November 2019 yang lalu. Pertemuan ini berlangsung di Sekretariat LDII Jalan Karya Bakti RT 5 Kelurahan Wonotirto Samboja, Sabtu (1/2).

Ketua PC LDII Kecamatan Samboja Subliansyah, mengatakan bahwa kunjungan ini merupakan balasan dan silaturahmi yang telah terbina dengan baik. “Alhamdulillah, Pak Ahmad selaku Camat hadir di tengah-tengah kita di sela kesibukan masing-masing. Semoga dengan kunjungan dan silaturahmi ini, Allah paring manfaat dan barokah,” tutur Subliansyah.

Pada kesempatan ini, pengurus LDII setempat memberikan usulan agar pemerintah memberikan dukungan dalam bentuk fasilitas pengelolaan limbah bagi pengrajin tahu tempe.

Camat Samboja Ahmad Nurkhalis. Foto: tribun kaltim

Camat Samboja Ahmad Nurkhalis. Foto: tribun kaltim

“Banyak keluhan warga mengenai pencemaran limbah yang mengganggu masyarakat sekitar, terutama aroma limbah tahu dan tempe. Oleh karena itu, kami menganggap perlunya dibuatkan centralisasi pengelolaan limbah sehingga tidak mencemari lingkungan,” tutur Hanif Syaifuddin, Sekretaris PC LDII Samboja.

Atas usulan ini, Camat Ahmad Nurkhalis mendukung dan akan membantu merealisasikan baik dengan bantuan pemerintah maupun menggandeng perusahaan dalam bentuk CSR (Corporate Social Responsibility) yang berada di wilayah Samboja. “Apalagi Kelurahan Wonotirto oleh Perindagkop Kabupaten Kutai Kartanegara menjadi Centra Industri Tahu Tempe,” tutur Hanif.

Ahmad Nurkhalis sangat berterima kasih keberadaan LDII di Samboja mampu menjaga dan membina kerukunan antar umat beragama. Selain itu, Nurkhalis mengajak warga LDII terus menerapkan gaya hidup sehat mengingat tingginya kasus stunting pada ibu dan anak.

 Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama. Hal ini terjadi karena asupan makan yang tidak sesuai dengan kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

“Kita juga berharap kalau bisa anak-anak bisa bebas dari asap rokok. Alhamdulillah syukur, di sini kami warga LDII tidak ada yang merokok,” tutur Hanif.

“Sesuai instruksi dari atas, LDII di daerah berusaha berkomitmen menerapkan rumus 3K, yakni Karya Kontribusi dan Komunikasi. Insyaallah dengan rumus ini, kita akan menjaga dan membina hubungan masyarakat dengan baik,” tutup Hanif. (SA/LINES)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.